Pesan&Kesan

now browsing by category

 
Posted by: | Posted on: April 27, 2015

Kasih Sayang

Kasih sayang merupakan salah satu sisi yang paling dalam kehidupan manusia. Dengan kasih sayang manusia bertahan hidup, dengan kasih sayang pula generasi manusia berlanjut. Kasih sayang adalah fitrah manusia. Mengikuti kaidah bahwa pendidikan adalah upaya memuliakan kemanusiaan manusia, maka situasi pendidikan harusnya dikembangkan melalui kasih sayang, segenap arah dan isinya dipenuhi warna kasih sayang.
Kasih sayang dimanifestasikan melalui komunikasi dan perlakuan yang bernuansakan kelembutan. Kasih sayang dan kelembutan berada dalam satu paket yang mewarnai situasi pendidikan. Dalam suasana kasih sayang dan kelembutan itu wahana situasi pendidikan metransformasi peserta didik mencapai tujuan pendidikannya.

gck11 gck22 gck33 gck44

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MAKNA KASIH SAYANG

Kata kasih dan sayang itu mengandung pengertian yang sangat luas. Dan yang pasti setiap insan manusia perlu tahu dan mengerti apa makna kasih sayang yang sebenarnya, sekaligus memilikinya di dalam hati sanubari. Seseorang akan terlanda kekeringan jiwa jika hidup tanpa memiliki kasih maupun sayang. Apapun yang terjadi, pasti dia akan ingin selalu dicintai sekaligus mencintai orang lain. Dari pertama kali lahir di dunia sampai nanti ajal menjemput
Yang dimaksud kasih dan sayang disini bukan sekedar hubungan cinta atau asmara antara seorang laki – laki dan seorang perempuan saja. Namun bersifat lebih universal. Sehingga hal ini bisa terjadi antara sahabat, saudara, keluarga dan lain – lain. Dan yang perlu ditekankan adalah bahwa kasih dan sayang yang tulus itu selalu punya sifat yang ikhlas dan lebih banya memberi daripada menerima. Kepentingan diri sendiri sering dinomorduakan dan memberi kebahagiaan pada orang yang dikasih dan disayanginya.

Sumber : http://www.anneahira.com

Posted by: | Posted on: April 6, 2015

Di Griya Cinta Kasih, dia Kutitipkan

titipDia memilki paras dan wajah yang cantik melebihi diriku. Dia juga memiliki kulit yang putih, rambut yang ikal lebat, mata yang sendu, gigi yang rapi yang juga melebihi diriku. Dia juga anak yang pinter mungkin melebihi diriku juga. Dia adalah adik yang kusayang selalu.

Namun, rasa sayangku padanya tak dapat aku realisasikan dalam bentuk kedekatanku dalam menjalin hubungan kakak-adik selama kami tinggal dan dalam asuhan orang tua. Justru semenjak kecil kami seringkali bertengkar hanya karena persoalan sepele. Maklum, masih anak-anak. Menginjak Usia remaja, memasuki masa SMA, kami telah terpisah secara terpaksa. Kubilang terpaksa, karena sebelumnya keluarga orang tua kami masih tinggal bersama Bude dan anaknya di rumah kakek-nenek yang masih menjadi hak milik Bude dan paman. Konflik tentang warisan rumah itulah awal penderitaan kami dimulai. Rupanya rumah dan tanah itu telah dibagi ke sodara Bapak yang lain dan telah disertifikasi atas nama anak Bude. Sehingga, mau tidak mau kami sekeluarga harus keluar meninggalkan rumah itu.

Sebuah rumah mungil tidak jauh dari rumah awal yang kami tempati itulah dibangun. Rumah itu pun sebenarnya adalah dari warisan milik Emak yang beberapa lama tidak diminta. Masih beralaskan tanah, dan berpintu ala kadarnya serta jendela yang masih leluasa di lewati angin yang berhembus dari luar, akhirnya kami tempati juga. Meskipun barang-barang telah dipindahkan ke rumah baru itu, akan tetapi tanpa alasan yang jelas, adikku belum bersedia tinggal di rumah baru kami.Mungkin melihat kondisi rumah, dia tidak merasa nyaman untuk turut tinggal bersama kami.

Seusai lulus SMA, aku meneruskan sekolah hanya sampai D1. Selepas itu, aku mulai bekerja, mulai menjadi tukang ketik di sebuah rentalan komputer, tutor atau pengajar komputer, menjadi penjaga toko dan foto copy, hingga bergabung pada sebuah LSM di Kediri dan Surabaya. Sejak aku sekolah di SMA nyaris, aku tidak pernah tergantung lagi kepada orang tua secara financial. Bahkan dari sisa beasiswa yang aku peroleh, aku bisa menempuh pendidikan D1 dan membantu membiayai sekolah kedua adikku hingga lulus SMA.

Rupanya penghasilan kedua orang tuaku sebagai tukang jahit pakaian mulai menurun seiring dengan menurunnya kesehatan orang tuaku. Pendapatan yang aku peroleh selama ini lebih banyak aku berikan kepada orang tua untuk membantu menopang kebutuhan hidup keluarga. Cobaan demi cobaan telah menempa selama perjalanan hidupku. Akan tetapi aku begitu menikmati semuanya dengan enjoy.

Selepas SMA, adik perempuanku mendapatkan beasiswa untuk masuk perguruan tinggi negeri di Kota Malang. Selama proses ujian masuk hingga daftar ulang, aku mengantarkannya pulang pergi ke Kota Apel tersebut. Tak terasa, adikku sudah remaja. Bangga melihat dia berhasil mendapatkan beasiswa untuk kuliah nantinya. Sayang, rupanya kepandaiannya di akademis tidak diimbangi dengan kepandaian dalam bersosialisasi atau bermasyarakat, atau berjejaring untuk mencari teman. Dia memiliki kepribadian yang kuper dan minder. Pemalu dan pendiam yang berlebihan, sehingga akibat dari sifatnya inilah Beasiswa pun gagal dia dapatkan. Hanya karena kurang mendapatkan informasi yang akurat, dia tidak dapat menikmati kuliahnya di Universitas yang dia impikan selama ini. Terlambat, aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantunya. Seandainya masih ada waktu saat itu……..!!!! Sudahlah. Sedih dan kecewa melihat kondisi dia. Sebagai seorang kakak, ingin sekali aku mengomeli dia habis-habisan. Mengapa dia sebodoh itu? Tetapi, emakku yang tahu karakter dia melarangku untuk memarahi dia.

Waktu berlalu dari tahun ke tahun. Rupanya dia lebih memilih tinggal bersama sodara sepupuku yang tinggal di Bekasi. Selama setahun itulah dia tinggal dan dikursuskan di sana. Aku tidak tahu sama sekali perkembangannya. Akhirnya aku coba membangun komunikasi dengannya via email. Dari sanalah aku ketahui, rupanya dia masih bermasalah dengan dirinya sendiri. Setahun berlalu, aku minta dia untuk pulang.

Sebegitu kuat karakter yang dia miliki sehingga ketika dia mulai menyesuaikan diri kembali untuk tinggal di rumah bersama saudaranya merasa kesulitan. Sifat tertutup, lebih suka menyendiri dan melamun di dalam kamar seringkali dia lakukan. Aku sarankan dia untuk ikut bergabung pada organisasi di kampung. Supaya dia bisa bergembira bersama teman-temannya yang lain. Akan tetapi dia seperti merasa menjadi manusia asing di tengah-tengah masyarakat kampungnya sendiri. Bahkan untuk keluar rumah pun dia enggan. Melihat kondisinya yang semakin memburuk, aku menjadi gelisah. Seringkali aku merasa bersalah karena tidak bisa membantunya untuk mengatasi masalah pribadinya. Entah persoalan apa yang dia sembunyikan selepas dari Bekasi? Dia sama sekali tidak mau bercerita.

Tahun terus saja berganti. Sifat terutupnya semakin menjadi. Aku semakin tidak bisa lagi bercengkerama dengannya, karena waktuku lebih banyak di Surabaya. Gejala Depresi itu mulai menyerangnya. Berbagai nasehat dari orang tua dan beberapa teman yang aku datangkan ke rumah, tak sanggup mengubah jalan pikirannya. Semakin lama, dia semakin tenggelam dengan dunia yang diciptakannya sendiri. Perkembangannya selanjutnya, tiba-tiba dia menjadi seorang yang brutal. Berbagai macam alat dapur dibantingnya. Oh Tuhan, apalagi ini? Perih dan pilu hatiku melihatnya seperti itu.

Berbagai pengobatan telah diupayakan. Mulai dari pengobatan medis, spiritual dan konsultasi psikologi kami lakukan. Bahkan menurut temanku yang merupakan lulusan psikologi telah memberikan kesimpulan, bahwa yang bisa menyembuhkan dia adalah dirinya sendiri. Buntu sudah semua.

Ingin aku memberikan semua yang dimintanya. Akan tetapi jika dia sendiri tak sanggup menopang dirinya sendiri, keluarga pun akan semakin terombang-ambing. Oh, adikku yang cantik nan rupawan. Tidak sesuatupun kekurang di dirimu yang lebih buruk dari diriku. Tapi mengapa tidak bisa kau syukuri dengan memanfaatkan semuanya yang engkau miliki? Adakah Allah menjadikan dirimu seperti ini memiliki maksud yang tersembunyi?

Bersama teman-teman aktivis lain, aku masih berusaha mencari tempat dan pengobatan yang terbaik untukmu. Bukan karena aku tidak sayang, sehingga menjadikan semua lambat. Akan tetapi inilah kemampuan yang aku miliki bisa kuberikan kepadamu. Saat kutemukan tempat yang sesuai untukmu, ternyata isi kantong ini tak mencukupi. Maafkan aku, adikku. Suatu ketika, melalui seorang teman juga kudapatkan informasi, “Griya Cinta Kasih” yang beralamatkan di Jombang itulah aku menitipkanmu di sana. Jujur kukatakan, aku tak tega memisahkanmu dari keluarga. Akan tetapi ini semua demi kebaikanmu.

Tempat itu dikelola oleh seorang kontraktor yang ternyata hasil dari sekumpulan beberapa teman yang menyisihkan uangnya yang lebih untuk membantu sesamanya. Griya Cinta Kasih, belum lama didirikan. Belum genap dua tahun. Akan tetapi pasiennya sudah mencapai 160an orang. Menurut cerita seorang relawan yang bekerja di sana sejak awal, awalnya pasiennya hanya 30an orang. Pada waktu itu relawannya juga masih banyak. Akan tetapi lama kelamaan, pasien terus bertambah sementara relawannya yang sudah berkelurga mendapatkan komplain dari anggota keluarga karena selain menghabiskan waktu di luar juga tidak digaji. Semua atas biaya sendiri dan sumbangan teman-temannya yang memiliki harta lebih. Dia juga bercerita bagaimana kecemasan itu juga timbul apabila persediaan bahan makanan mulai menipis. Tempat penampungan itu juga bisa dibilang mirip kandang sapi. Akan tetapi terakhir sebulan lalu aku mengunjungi, beberapa penampungan telah dibangun selayaknya tempat tinggal biasa. Alhamdulillah. Menurut cerita sang pendirinya, mulai ada perhatian dari pemerintah setempat. Akan tetapi belum bisa mendapatkan bantuan rutin berupa makanan, karena surat ijin mendirikan masih dalam proses.

Semakin lama, pasien semakin bertambah. Bahkan dari luar kota juga banyak. Ada apa ya? Aku hanya bisa berdo’a semoga Pemerintah semakin perduli terhadap Yayasan ini. Semoga adikku juga segera sembuh. Amin.

Sumber: http://sosbud.kompasiana.com/2010/03/05/di-griya-cinta-kasih-dia-kutitipkan-86885.html

Posted by: | Posted on: April 6, 2015

Petuah dari Griya Cinta Kasih-2

Petuah dari Griya Cinta Kasih – 2
Baiklah, selamat malam sebelumnya! Kisah ini merupakan kelanjutan dari artikel Petuah 1 sebelumnya. Masih di emperan musholla yang sederhana, ketika kami menyimak dengan seksama penuturan Pak Jami’in. Cerita yang kali ini merupakan kisah suka-duka Beliau bersama rekan-rekan relawan selama merawat para pasien di Griya Cinta Kasih.
****
Merawat sekitar 200 orang yang sakit jiwa bukanlah perkara mudah. Apalagi dengan fasilitas yang sangat seadanya dan dengan dukungan relawan segelintir orang saja. Modal Beliau hanyalah “Kasih Sayang” yang tulus ikhlas. Mungkin kita bisa membayangkan bagaimana repotnya mengurus satu orang sakit jiwa saja. Apalagi ini yang jumlahnya melebihi 200 orang, termasuk adikku di antara mereka.Tetapi tentu saja, bukan Beliau seorang. Di belakang Beliau ada teman-teman Beliau yang mendukung secara finansial maupun tenaga.

Polah tingkah pasien yang jumlahnya mencapai ratusan ini, cukup membuat para relawan kewalahan. Jengkel, marah & kelucuan mereka mewarnai kehidupan para relawan sehari-hari. Inilah kisah, suka-duka mereka.
****
Ada pasien yang pernah menghilang dan mungkin melarikan diri keluar dari penampungan. Sebenarnya bukan melarikan diri, mungkin keluar berjalan-jalan hingga lupa jalan kembali pulang. Hal ini membuat para relawan khawatir hingga mereka harus mencari sampai berhari-hari. Terkadang ada yang ditemukan di luar kota. Seperti surabaya, Sidoarjo ataupun Mojokerto.
Pernah Suatu ketika ada seorang pasien yang sudah berhari-hari menghilang. Ketika ditemukan pasien tersebut tengah tidur di atas salah satu ranting pohon besar bukan dengan posisi tidur. Akan tetapi sebuah cabang pohon tersebut dijadikan penumpu dagunya, sementara tubuhnya dibiarkan menggantung.
*****
Tingkah pasien yang lain yaitu ketika salah seorang pasien masih berumur sekitar 11 tahun, dia memanjat pohon kares hingga ke pucuk daun sambil berjoget-joget tanpa terjatuh. Ketika diteliti apa yang menjadi latar belakangnya? ternyata kedua orang tuanya tengah mencari “pesugihan”, sehingga anaknyalah yang menjadi korbannya atau tumbal akibat perbuatan kedua orang tuanya. Akhirnya keluarga pasien pun diminta supaya bertobat demi kesembuhan anaknya. Maka, sembuhlah pasien tersebut seperti sedia kala.
****
Tidak semua pasien yang berada di sana diakui oleh keluarganya dan dijenguk secara rutin. Jangankan dijenguk rutin, bahkan data tentang alamat pasien pun seringkali seperti sengaja dikacaukan. Pernah suatu ketika ada pasien yang meninggal dunia, jenazah pun diantarkan oleh pengurus Yayasan kepada alamat sang keluarga. Akan tetapi Pak Jami’in bersama relawan yang lain kebingungan karena nomor yang dihubungi selalu menjawab salah sambung. Bukan itu saja, alamat pun ternyata ada dua yaitu Surabaya dan Gresik. Mereka harus berputar-putar dan bertanya kesana kemari untuk mencari alamat pasien. Entah apa yang terpikir di kepala keluarga yang bersangkutan, hingga jenazah sang pasien pun mereka enggan untuk menerimanya. Bagaimana pun dia tetap menjadi bagian keluarga mereka. Hubungan darah tidak bisa diputuskan oleh apapun juga. Sungguh mengenaskan sekali.
****

Sumber: http://diary-alfi.blogspot.com/2012/05/petuah-dari-griya-cinta-kasih-2.html

Posted by: | Posted on: April 6, 2015

Petuah dari Griya Cinta Kasih-1

Sekian lama tak mengisi blog. Kini seperti ada inspirasi baru mengisi energi kembali. hhhhhft, melepas lelah sejenak. Sebelum kemudian jemari ini memulai untuk menari di atas keyboard. Cerita kali ini sangat menarik perhatianku. Ya, tentu saja. Karena pengalaman ini memang aku sendiri yang mengalaminya.
Seminggu yang lalu, agendaku untuk mengunjungi adik tercintaku telah kulaksanakan. Sebenarnya dari dalam lubuk hatiku, ada perasaan merasa bersalah kepadanya. Karena sudah 4 bulan terakhir semenjak awal tahun 2012 kuabaikan dia di sana. Griya Cinta Kasih. Hhh….! Griya Cinta Kasih, semoga tetap memberikan kasih sayang kepadamu adikku. Maafkan aku, adikku. Kasih sayangku tetap akan kuberikan kepadamu sejauh yang bisa aku berikan. Akan tetapi, perhatianku harus terbagi di luar sana. Karena ada kewajiban dan tugas yang harus aku selesaikan. Semua demi dirimu juga. Apakah kau tahu? Tugas itu cukup menyita waktuku hingga harus mengabaikanmu sejenak saja. Aku tahu, kamu tidak akan mungkin menjawab pertanyaan ini. Akan tetapi kelak, aku yakin bahwa dengan segenap kesadaran jiwamu. Kamu bisa memahaminya. Tersenyumlah, adikku yang cantik.

Pagi itu, sinar matahari mulai terik menyapu bumi Desa Sidomulyo, Dsn. Sidowaras, Kec. Jogoroto Kabupaten Jombang. Setelah sekian menit, bahkan mungkin jam berputar-putar dengan becak menyusuri kelokan jalan berdebu, karena Bapak tukang becak ternyata tidak mengetahui lokasi persisnya Griya Cinta Kasih, akhirnya aku temukan juga bangunan dengan gerbang bercat warna hijau di tengah sawah itu. Alamat yang masih tersimpan di hp-ku itu memang tidak salah. Akan tetapi rupanya ada yang baru aku ketahui dari alamat itu. Lokasi itu sebelumnya ternyata lebih dikenal masyarakat dengan sebutan “SAMIDAN”. Seringkali para tukang becak mengatakan, “coba sampean bilang Samidan, mbak. Semua orang di sini pasti sudah mengetahuinya”. “ooooh, Inggih, Pak. Ngaten nggih”. Jawabku dengan mengabaikan kata-katanya yang sebenarnya tidak kali itu saja aku dengar dari para tukang becak. Baru pada hari itu, seminggu setelah kunjunganku pada tanggal 15 April kemarin, aku temukan jawabannya mengapa dinamakan SAMIDAN? Bapak tukang becak, menceritakan bahwa SAMIDAN itu berasal dari kata SAMI EDAN, yang artinya pada edan alias banyak yang gila atau sakit jiwa. Dahulunya di dusun itu banyak orang yang mengalami sakit jiwa, sehingga dinamakan SAMIDAN. Namun lambat laun karena kepedulian seorang warga di dusun itu, demi menghilangkan stigma negatif, akhirnya nama dusun itu dirubah menjadi SIDOWARAS yang artinya jadi sembuh atau waras atau jiwa sehat. Dengan merubah nama dusun itu tersebut, sudah jelas memang ada harapan agar warga di sana tidak ada yang mengalami sakit jiwa. Hmmm, mengapa aku baru mengetahuinya ya? Ternyata bepergian ke sana seorang diri dengan naik becak pun ada hikmahnya juga. hihi….. buktinya aku jadi sedikit tahu asal-usul nama dusun itu. Akan tetapi cukup bikin puyeng kepala, karena selalu saja nyasar. Ah, tidak mengapa.
Hmmm…. masih seperti dulu, sebuah musholla yang berdinding dan berlantaikan kayu dan sedikt perluasan lantai porselen yang tak seberapa luas itu sudah dipenuhi oleh para tamu laki-laki dan perempuan. Rupanya aku sedikit terlambat, karena acara sudah dimulai. Orang-orang begitu perhatian dengan ceramah yang disampaikan. Seorang laki-laki dengan penampilan yang sangat sederhana, hanya sebuah hem berlengan pendek dan celana panjang sedang menyampaikan petuahnya di tengah-tengah para tamu. Penampilan memang boleh dibilang sederhana, akan tetapi isi ceramahnya inilah yang sangat membuat para tamu termasuk aku yang membuat kepala selalu manggut-manggut dan menggumam karena tercengang atas penuturannya. Dengan menggunakan bahasa Indonesia bercampur Jawa, Beliau ini menceritakan dengan luwes segala peristiwa yang terjadi selama di Griya Cinta Kasih.
Merekatkan tali silaturrahmi antara keluarga pasien dengan pengurus dan terutama dengan pasien sendiri. Ini adalah yang pertama dari isi ceramah Beliau. Sejenak aku menebarkan pandangan ke seluruh bangunan di sekitarnya. Masih ada beberapa kamar yang berdinding bambu dan berlantai kayu. Meskipun kini sudah ada beberapa bangunan yang dibangun dengan tembok dan berlantai porselen. Rupanya itu tidak mampu menampung pasien yang kini jumlahnya mencapai 200-an orang lebih. Begitulah informasi yang disampaikan oleh Pak Jami’in, Ketua GCK yang sedang menyampaikan petuahnya. Terlihat beberapa orang yang terbatasi oleh pintu bambu ala kadarnya tengah bergerombol melihat para tamu yang sedang duduk di musholla. Ya, merekalah para pasien. Banyak diantara mereka yang kesannya memang sengaja “dibuang” atau “disingkirkan” oleh keluarga mereka karena menderita sakit jiwa. Hal itu sudah jelas karena mereka tidak pernah dikunjungi oleh sanak saudara mereka. Hmmm… memprihatinkan. Akan terlihat, siapa yang benar-benar peduli terhadap sesamanya. Jangankan terhadap sesamanya, terhadap sanak saudara sendiri saja, rupanya membuat mereka enggan untuk mengakuinya. “Coba ibu-ibu dan bapak-bapak lihat mereka. mereka itu jumlahnya ada 200an lebih. Tetapi yang datang pada hari ini, apakah jumlahnya mencapai 200 orang?” Kata beliau menekankan. Ya, mereka juga tidak menginginkan itu terjadi kepada mereka. Mereka adalah manusia yang seharusnya kita rawat dengan penuh kasih sayang. Mereka para pasien, hanya dengan dengan rasa kasih sayang. Kasih sayang yang utuh. Memanusiakan manusia. Tidak ada obat-obatan tertentu atau semacam “mantra” untuk mereka. “Akan tetapi, alhamdulillah Bu. Mereka sudah ada yang sembuh total”. “Saya tidak mengharapkan uang sampean atau sumbangan sampean. Tetapi jenguklah saudara sampean yang ada di sini. Saya berusaha, sampean juga berusaha. Ya dengan cara seperti ini saya bisa mengumpulkan sampean. Supaya sampean mengetahui kondisi di sini seperti apa”. Lanjut Beliau.
Pandanganku terhenti di musholla yang memang dari awal aku kunjungi tetap seperti itu kondisinya. Dinding dan lantai kayu. Menurut cerita Pk Jami’in, Musholla tersebut hanya dikerjakan oleh beliau dibantu 2 orang. Begitu juga sebuah aula yang dimaksudkan untuk kantor Yayasan. Kondisinya sama, lantai kayu dan berdinding bambu. Beliaulah yang mengerjakannya. Bahkan tembok-tembok yang terbuat dari bambu itu sudah beberapa kali jebol karena kelakuan para pasien yang mengamuk.
Nah, menurut rencana Beliau, lokasi hendak diperluas hingga beberapa hektar. Beliau berencana membeli tanah persawahan yang ada di samping lokasi. Harganya sekitar 100 juta lebih dan menurut cerita Beliau, sang pemilik tanah meminta supaya dilunasi dalam waktu seminggu ini. Padahal Beliau masih memiliki uang sekitar 50 juta. Hmmm….. kembali para tamu dibuat terdiam dan berpikir. “Kulo nyuwun dongane njenengan sedoyo mawon. Mugi-mugi dalam waktu dekat ini angsal yotro maleh. nggih”. Kata Beliau. Menurut Beliau, sudah beberapa kali mencoba meminta bantuan kepada Pemerintah Daerah. Namun hingga saat ini belum ada respon dari mereka. “Mungkin belum di acc, barangkali”. Kata Beliau menghibur.
Ya, memang tidak sekali itu saja terjadi. Pernah ada bantuan yang hendak diturunkan, akan tetapi Beliau menolak karena adanya potongan. Yah, Beliau tidak menginginkan niat baik Beliau dinodai oleh KORUPSI. Mending tidak menerima bantuan tersebut, daripada “Menari di atas penderitaan para pasien”. Tegas Beliau.
Toh, beberapa bangunan yang sudah ada, Beliau peroleh dari bantuan Jepang. Sebuah mobil, juga didapatkan dari bantuan Negara Australia dan beberapa bantuan dari Solo. “Kenapa tidak mendapatkan dari Jombang ya?” celetuk Beliau. Alhamdulillah…. sambung Beliau lagi.
Sebenarnya cerita ini belum seberapa. Ada beberapa tingkah polah para pasien yang tentunya bikin dahi jadi berkerut.
Tapi bersambung dulu……

Sumber:

http://diary-alfi.blogspot.com/2012/04/petuah-dari-griya-cinta-kasih.html