Jamiin Menjadi “Temen Setia” Bagi Penderita Gangguan Jiwa

jamiin

JOMBANG – Jamiin (52), memang berbeda dengan orang kebanyakan. Warga Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto, Jombang, Jawa Timur (Jatim) ini rela menghabiskan waktunya untuk bersama dengan penderita gangguan jiwa.

Begitu diminta warga untuk menangani anggota keluarganya menderita gangguan jiwa, Jamiin segera berangkat menjemputnya. Tak jarang, upaya Jamiin untuk menolong justru mendapat perlawanan dari “pasiennya”.

Akibatnya beberapa kali Jamiin menderita luka parah, bahkan nyaris tewas karena dibacok di bagian kepala dan ditusuk dadanya dengan pisau.

Tetapi, dengan sabar Jamiin tetap berusaha mengajak dan membawanya ke rumah penampungan yang diberi nama Griya Cinta Kasih.

Layaknya seperti anak sendiri, di rumah yang berdiri di atas tanah pribadinya seluas 6500 M2, Jamiin dengan tulus merawat mereka. Mulai dari memandikan, memberi makan, hingga melakukan terapi dengan kegiatan-kegiatan keagamaan.

Di waktu senggang, Jamiin mendekati para anak asuhnya ini untuk sekadar mengajak ngobrol atau untuk mencurahkan isi hatinya. Jamiin mengaku, proses terapi yang ia lakukan tidak dengan obat-obatan atau terapi formal, tetapi dengan melakukan pendekatan psikologis.

“Bagi mereka yang sudah bisa diajak berkomunikasi, saya menyuruhnya untuk bekerja seperti menjadi kuli bangunan atau berkebun,” tandas Jamiin, Jumat (7/11/2014).

Jika dibiarkan menganggur atau tanpa kegiatan, kata Jamiin, penderita gangguan jiwa mudah melamun dan akan sulit sembuhnya. Uang hasil dari kerja tersebut dipakai untuk makan bersama dengan ratusan  penderita gangguan jiwa yang diasuhnya.

Dia mengaku kerap mendapat bantuan bahan makanan berupa beras dari keluarga penderita gangguan jiwa, namun jumlahnya sedikit. “Sebab, banyak keluarga yang sudah sengaja melepas dan tidak mau mengurus lagi penderita gangguan jiwa.”

Jamiin mengaku merasa terpanggil untuk menolong dan merawat para penderita gangguan jiwa sejak  2003 karena merasa prihatin dan kasihan. “Sebab, orang-orang gila banyak yang ditelantarkan dan dikucilkan oleh masyarakat,” akunya.

Bahkan, tak sedikit, karena ketiadaan biaya, penderita gangguan jiwa dipasung oleh keluarganya. Padahal, jika dipasung, orang gila akan semakin gila dan tidak bisa sembuh.

Atas dasar itu, Jamiin bergerak sendiri untuk menjemput dan membawa orang-orang gila yang dipasung keluarganya ke rumah penampungan miliknya di Desa Sumbermulyo. Lambat laun, penderita gangguan jiwa yang dirawatnya terus bertambah, hingga kemudian mendirikan sebuah yayasan atas bantuan para donator.

Pada 2005, yayasan dibangun pertama kali dengan nama Yayasan Penuh Warna. Namun, karena hanya bersifat sosial dan tidak memberikan keuntungan, satu per satu pengurus yayasan meninggalkannya bersama 113 orang penderita gangguan jiwa.

Kendati sempat kebingungan bagaimana harus menghidupi mereka, Jamiin terus bekerja keras dan bertahan merawat para “anak asuhnya” dengan hasil dari usaha berkebun dan mendirikan sebuah warung makan.

Atas kebaikan dan perjuangannya itu, 2013 lalu, Jamiin mendapat penghargaan dari kementerian sosial sebagai pejuang dan pekerja sosial yang merawat dan menampung para penderita gangguan jiwa secara gratis di rumah penampungan miliknya.

Tiga tahun lalu, Jamiin mendapat bantuan dari Australia sebuah ambulan. “Ini lantaran kasihan melihat saya yang sering menjemput orang gila hanya dengan menggunakan sepeda motor,” kenangnya. Kini, jumlah penderita gangguan jiwa yang dirawat Jamiin sebanyak 207 orang.

“Dari jumlah tersebut, 20 orang di antaranya tanpa identitas karena merupakan kiriman dari Satpol PP dan Dinas Sosial Kabupaten Jombang.”

Sementara, yang sudah jadi “alumni” dari tempat penampungannya selama ini sebanyak 1.358 orang. Dalam merawat pasien gangguan jiwa, Jamiin dibantu 12 orang. “Semuanya tanpa digaji. Mereka merupakan mantan penderita gangguan jiwa yang sudah sembuh, tapi merasa terpanggil membantu saya,” tandasnya.

(lis)
source: http://daerah.sindonews.com/read/921349/23/jamiin-jadi-teman-setia-penderita-gangguan-jiwa-1415363556

Leave a Reply